Civilisation

4 Cara yang Salah untuk Berpura-Pura Punya Wawasan Luas

Gambar di atas itu Goethe. Bila Anda Goethe, Anda tidak perlu berpura-pura. Tapi kalau ternyata perlu, ini empat cara salah yang harus dihindari.

Saya sama sekali tidak berniat mencela Bung Vicky Prasetyo. Yang dia upayakan toh manusiawi dan dipraktikkan oleh kita semua: pura-pura lebih berwawasan, lebih serba tahu, dan lebih waskita dari tingkat yang sebenarnya. Tidak salah itu kalau menurut saya, justru ia bagian alami dari proses belajar. Kalau seandainya segenap umat manusia puasa sama sekali dari sok tahu-menahu, tak bakal ada lagi diskusi dan musyawarah. Sebab semua jadi sungkan — seperti sepantasnya.

Lantas kalau niatnya sudah biasa, dan hasilnya (gagal) juga sudah biasa, mengapa Bung Vicky ini jadi ramai ditertawakan? Jika kita asumsikan kalau Bung Vicky bukan seorang troll, maka saya kira ini akibat dari salah-perhitungan yang memang langka: keliru memahami standar khalayak ramai. Kurang mawas diri! Dia masih kabur, takaran seperti apa yang akan dianggap “konyol” oleh orang banyak, sehingga kesulitan mereka-reka dosis omong-kosong yang mesti dimuntahkan. Jadi, ini masalah tidak mengenal audiens yang hendak dikibuli. Delusi, atau waham. Mana bisa seperti itu.

Kegagalan jenis demikian seringkali membuat paranoid. Bisa bikin membatin, jangan-jangan celotehan kita selama ini juga oleh kawan-kawan dijadikan bahan tertawaan. Nasib baik saja kesoktahuan itu disiarkan di media sosial dan bukan Cek & Ricek! Nah, usaha saling mengidentifikasi “cara-cara salah untuk ber-sok tahu” ini, saya pikir, adalah usaha kita semua secara kolektif dan terus-menerus. Berikut empat sumbangsih saya: empat teknik pura-pura berwawasan yang sering ditemui, tapi menggelikan. Umum, tapi sering korsleting. Demikian semoga Anda jauhi.

(Sumber: Pernah khilaf dan terperosok ke dalam semua kesalahan ini.)

#4 — Membuli, lalu demonstrasi keahlian diri sendiri

Situasi: Ini biasanya terjadi ketika ada yang membuat suatu kesalahan, lalu dia sudah terlanjur dibuli. Si pelaku di sini biasanya kedapatan memiliki suatu kelemahan dalam satu bidang, yang tak sengaja ia pertontonkan ke orang banyak. Misalnya, ia mencoba berbahasa Inggris, lalu rupanya kurang piawai.

Kesalahan: Kadang godaannya adalah menertawakan si pelaku sambil sekalian menunjukkan bahwa kita tidaklah seperti dia. Pada contoh keliru berbahasa Inggris di atas, bisa saja cemoohan terhadap dia kita bikin pakai bahasa Inggris sekalian, supaya orang juga sekaligus tahu, kalau level kita ada di atas si pelaku (korban?).

Ini berbahaya sekali, karena (1) kita bisa saja tidak seahli yang kita pikir, (2) kita bisa saja khilaf, lalu demonstrasi keahlian kita itu tak semanis yang kita harapkan, dan (3) pada skenario begini, ada kecenderungan untuk menunjukkan keahlian kita dengan seheboh mungkin, sehingga lebih rawan salah-eksekusi. Apabila kita kembali ke contoh bahasa Inggris tadi, misalnya, kita bisa tergoda untuk memasukkan sebanyak mungkin slang supaya terkesan semakin ahli.

Contoh asli: Pada video “konspirasi kemakmuran” Bung Vicky, penggunaan bahasa Inggris beliau (“29 my age“) secara berjamaah dihujat. Sebetulnya saya kira ini tak terlalu masalah juga karena konteksnya ialah percakapan, sehingga bisa disusun sebagai “anu, anu, 29, my age, anu” yang sama saja alaminya dengan frase seperti “Jeeves my valet“, tapi anggaplah itu memang perlu dikoreksi. Ketika saya tonton videonya, ada komentar berbunyi:

This person is totally idiot with exclusive package, in one. I respect Patrick star is better than this shit.[sic]

Seperti yang Anda lihat, bahasa Inggrisnya bahkan lebih membuat tersedu-sedu lagi.

Cara sok tahu yang lebih baik: Tertawa saja dengan riuh-rendah seperti anggota majelis buli lainnya. Komentari betapa bodohnya si pelaku tapi tak usah buka kartu.

#3 — Ngobrol sepakbola, lalu sok jadi pemerhati umum (padahal bukan)

Situasi: Maksud saya dengan “pemerhati umum” itu kira-kira seperti ini. Pada dasarnya, ada dua jenis penikmat sepakbola: peminat olahraganya (umum) dan peminat klub. Peminat olahraga bisa saja mengikuti suatu klub, tapi tidak terlalu terfokus. Sedang peminat klub, itu adalah tipe fanboy yang hanya peduli akan nasib satu tim saja.

Saya sendiri juga termasuk kategori “peminat klub” — itu tidak salah kok. Yang penting adalah jangan sampai peminat klub sok menjadi peminat umum.

Kesalahan: Pada kasus akut, seorang peminat klub bisa hapal ukuran kaki kiper cadangan klub kesukaannya, bisa bercerita panjang lebar soal kebijakan transfer manajernya, dan, ketika klub sialan dia itu tanpa banyak publikasi beli pemain muda antah berantah, bisa berkomentar seperti “Ini assist leader di Piala Afrika U-15 dua tahun lalu!” Berkesan seolah-olah dia mengikuti sampai turnamen kelas tarkam, padahal kenyataannya dia tahu itu cuma gara-gara kebetulan diobroli di komunitas klub. Hal yang lebih sepele seperti siapa juara di liga negara sebelah, bisa saja dia tak tahu…

Apabila Anda tergolong kategori fanboy, seperti saya, maka Anda termasuk golongan beresiko. Jangan sampai menjadi terlalu larut dalam tetek-bengek tim sendiri dan kemudian merasa memahami olahraganya secara keseluruhan. Awalnya orang akan berdecak kagum mendengarkannya, tapi lama-lama, seiring mereka menyadari banyak mulutnya kita, mereka malah akan sebal.

Cara sok tahu yang lebih baik: Dua hal yang mesti dikerjakan. Pertama-tama, butir-butir berita yang tak terlalu penting soal tim sendiri, tak usah banyak disiarkan. Kedua, cari tahu soal informasi umum sampai level yang memadai. Boleh saja Anda tahu berapa persen akurasi operan Xabi Alonso musim lalu, tapi masak ndak tahu siapa itu Samir Handanović?

#2 — Sok berbahasa kritikus untuk mempromosikan budaya pop kesukaaan

Situasi: Sebagaimana telah saya bahas beberapa kali sebelumnya (“Homo Sinetronosus”, “Star Wars, Schmar Wars“), tidak semua budaya dianggap setara, dan ini jadi biang masalah buat banyak orang. Mayoritas kita, saya duga, ada di tengah-tengah — istilahnya middlebrow. Kalau konteksnya bacaan, Harry Potter ada di sini. Di bawahnya (“lowbrow“) ada roman picisan, dan di atas (“highbrow“) ada buku-buku dengan kata “Pulitzer” di sampulnya.

Kesalahan: Salah satu penyakit pemirsa budaya-menengah adalah, seiring mereka (kita?) bertambah pengalaman, semakin kuat pula keinginan untuk memuja produk-produk budaya-menengah yang dianggap benar-benar bagus. Ingin menjulurkan lidah ke bawah. “Wah, ini buku/film/serial/komik/game yang bagus!”

Berangkat dari keinginan begitu, terbitlah niat buat mempromosikannya — dengan bahasa kritikus. Ini wajar, tapi eksekusinya lebih sulit dari yang mungkin diduga banyak orang. Ketika gagal, yang lahir adalah sesumbar-sesumbar yang malah kedengaran lucu, karena penggunaan bahasanya seringkali canggung. Ini masalah unik budaya-menengah, sebab yang di “bawah” lumrah dinikmati secara sambil lalu saja, sedangkan yang di “atas” biasanya diulas dengan mahir.

Tengok masalah semacam name-dropping dan sebangsanya. Kadang asal lempar kata-kata seperti “deep“, “philosophical“, “thought-provoking“, atau berbagai istilah ilmiah. Kata-kata yang ngambang serta bercakupan terlalu luas — sehingga justru tak jelas maksudnya apa. (Juga, orang yang belum sarjana sebaiknya berhenti menge-spam kata “filosofis”.)

Lalu upaya memetik “hikmah” dari narasi yang disodorkan. Sering klise, atau, lagi-lagi, terlalu luas cakupannya. Rekomendasi profesional saja tak jarang jadi menggelikan kalau sudah merambah wilayah hikmah-berhikmah, apalagi rekomendasi amatir. Awasi kata-kata kunci semacam “pilihan hidup” atau “keberanian”. Penting memang konsep-konsep itu tapi toh ada di hampir semua cerita.

Pendeknya, rekomendasi begini seringkali berbunyi: “Robotnya keren, jagoannya keren, ceritanya seru. BTW ini sooo deeep.”

Cara sok tahu yang lebih baik: Ini saya juga bingung bagaimana mengatasinya. Diingat-ingat juga tambah bikin malu sendiri. Mungkin ada baiknya, ketika “berdakwah”, kita coba tidak terlalu ambisius.

#1 — Apa-apa jadi dalam bahasa Inggris

Situasi: Bahasa Inggris kastanya ada di atas bahasa Indonesia. Konon. Paling tidak secara praktis demikian. Jadilah banyak yang latah, apa-apa mesti diinggriskan — Inggrisisasi, mungkin Bung Vicky akan bersabda.

Kesalahan: Berbahasa Inggris, seperti halnya begadang, boleh saja asal ada perlunya. Kalau Anda ada di Bali, lalu ada orang kulit putih bertanya panik karena sesak ingin buang air, bantulah dia dengan berbahasa Inggris. Anda dan sahabat berbincang, sementara ada kerabat asing di ruangan, ada bagusnya berbincang dalam bahasa Inggris saja supaya lebih sopan. Bahkan di antara sesama orang Indonesia pun, kalau ada satu-dua istilah atau ungkapan yang pelik kalau diterjemahkan — beringgrislah, itu tak jadi soal. Yang lebih ajaib yaitu, kalau memang ada perlunya, bahasa Inggris Anda compang-camping pun halal-halal saja saya rasa.

Yang bermasalah adalah: kalau berbahasa Inggris padahal tak ada perlunya, dan kemudian tak fasih pula. Ini yang sungguh memprihatinkan.

Kalau perlu dan fasih, itu namanya lancar. Perlu tapi sering keseleo, jadinya mencukupi lah. Tak perlu, namun fasih? Itu sudah di ranah gratuitous. Nah, kalau sudah tak diundang, lalu banyak salahnya pula, itu sebaiknya introspeksi diri lagi.

Kegagalan bahasa Inggris jenis ini sering melibatkan overdosis slang, kontraksi, meme Internet, dan praktik lainnya yang tidak standar.

Cara sok tahu yang lebih baik: Kalau situasinya tak mendesak, pikir berkali-kali dulu dan pastikan apa yang akan Anda sebut (1) benar dan tertib, (2) pantas, serta (3) tidak mengundang ketupat bangkahulu.

Gambar Goethe dari Wikimedia Commons. Gambar Vicky Prasetyo dari Liputan6.com. Gambar-gambar ilustrasi dari vision2hear, Socqer, film American Psycho (2000), dan blog Asmadji Muchtar.

More stuff

Previous: