Civilisation

Romantisisme Berpikir Mandiri

Membaca argumentasi pihak seberang, sekenanya dan secara angin-anginan, tidak sama dengan sudah “mempelajari semua sisi”.

Retorika “berpikirlah mandiri” pada awal kemunculannya saya kira kuat dan relevan. Barangkali dia berkembang di lingkungan-lingkungan dengan tradisi yang kaku, di mana ada perbedaan pendapat antara pandangan awam dan pandangan cendikiawan. Retorika seperti ini berupa ajakan; ajakan supaya orang yang tengah digurui lebih rajin dan kritis lagi, supaya orang itu mau memeriksa kasusnya lebih dalam lagi. Supaya tidak sekadar bertaklid pada guru-gurunya, sekolahnya, pemerintahnya, orang tuanya, atau siapa-siapa saja yang bisa mempengaruhi arah dia berpikir.

Cara berdebat semacam ini paling enak dipakai sewaktu kita ada di posisi minoritas, atau terlalu nyeleneh sehingga opini yang kita kemukakan tampak sulit untuk bisa dikampanyekan tanpa berujung ribut-ribut. Ini gaya berpikir yang romantis lah, sebab meletakkan diri sendiri sebagai pejuang, sebagai pemikir independen yang walau kewalahan menghadapi rombongan orang dungu, tetap bisa gagah berdiri.

Ya tapi apa iya kita ingin orang berpikir mandiri? Atau ini malah berhala saja? Menyuruh orang bertaklid, walau tidak sampai buta, itu tidak politically correct sebetulnya. Susah untuk mengatakan “Berpikir jangan terlalu mandiri” tanpa kedengaran agak totaliter. Dalam bahasa Inggris perintahnya lebih keras: “think for yourself.” Ini kalau dilarang kesannya kita jahat.

Memang jelas, ketika saran ini disebutkan, maksudnya tidak lantas membolehkan berpikir seenaknya tanpa mengindahkan konsensus. Niatnya tentu bukan mempersilakan nyerocos soal kimia tanpa (katakanlah) gelar sarjana. Tapi kalau sudah demikian, retorika ini malah terasa terlalu spesifik kegunaannya. Kebijaksanaan yang ia bawa terlalu tawar, karena sudah akal sehat. Justru ulahnya membawa-bawa dikotomi taklid vs. mandiri bisa bikin bingung karena garis batasnya biasanya kabur.

Seperti biasa, ini bukanlah bentuk kepedulian, melainkan pelampiasan kekesalan. Masalahnya begini, beberapa kali saya ada menemui orang-orang yang pandangannya (menurut saya pribadi dan/atau konsensus umum) agak bengkok-bengkok, dan pembenaran yang diajukan pun lembek dan kurang meyakinkan. Meski begitu, kesannya yakin sekali. “Saya sudah periksa sendiri,” katanya. Jadi menurut penuturan si katak ini, dia sudah mempelajari kok geologi dan geografi, dan wah, ternyata, bumi itu datar. Atau sudah mempelajari sejarah secara serius dan ternyata masih yakin kalau Ratu Inggris itu semacam reptil (seperti kata David Icke yang gila itu). Betul, contoh-contoh ini berlebihan dan sekadar ilustrasi saja, tapi mudah-mudahan Anda paham lah perasaan gemas seperti apa yang saya maksud.

Biang keroknya ya mungkin retorika seperti “berpikirlah mandiri” itu. Nada penyampaiannya ‘kan seolah-olah: asal mau coba berpikir di luar kebiasaan, pasti bisa belok opininya. Jadi kita kadang merasa, setelah menyicip sambil-lalu literatur dari seberang, langsung merasa sudah mendidik diri sendiri dengan argumentasi dari dua kubu. Ini selain menyebalkan kalau terjadi pada orang lain, juga menakutkan kalau ternyata terjadi pada diri sendiri. Belum lagi potensinya memupuk kepercayaan diri yang tak pantas bagi orang yang opininya benar-benar ngawur.

Jadi mungkin ada baiknya retorika ini diistirahatkan saja, kecuali benar-benar perlu.

Gambar: Wikimedia Commons