Navel-gazing

Makruh

“Makruh” sebagai istilah agama sempat saya musuhi dan kasihani. Akan tetapi “makruh” sebagai istilah sekuler entah kenapa sangat membebaskan.

Dulu di telinga saya “makruh” seringkali terdengar menakutkan; tragis. Terjemahannya yang agak pas barangkali “discouraged“, di mana melakukannya tidak lantas dosa, tapi kalau dihindari mendapat berkah.

Walau posisi hukumnya tidak sekeras pengharaman, apabila keduanya dibandingkan pemakruhkan sesuatu justru terasa lebih menyedihkan, sebab sayup-sayup ada pengakuan bahwa yang dimakruhkan tidaklah sepenuhnya batil. Analogi asal-jadinya mungkin seperti ini: pada krisis zombi, “haram” adalah zombi yang tiba-tiba muncul dari balik pintu WC dan kemudian harus Anda tembak, sementara “makruh” adalah rekan Anda yang kena gigit oleh zombi pertama (dan kemudian harus Anda tembak). “Haram” adalah Abu Lahab; “makruh” adalah Abu Talib.

Menangisi makruh tentunya akan pilih-pilih. Kita rasanya tak punya keterikatan dengan makan sambil berdiri atau kain sutera untuk pria, jadi itu tidak perlu Anda tangiskan. Tapi tentu beda perkaranya dengan, umpamanya, seni musik atau tembakau. Ini bisa jadi bikin masygul — amannya memang berhenti, tapi toh tidak dosa! Celakanya setelah diteruskan, tiap sedotan rokok dan tiap gesekan biola kemudian ada rasa pahitnya. Kita paham bahwa beriman seringkali dijalankan dengan lebih berpusat pada menghindari yang jelek ketimbang mengejar yang bermanfaat, sehingga apa-apa yang makruh akan selalu terasa mengganjal. Pendeknya begini, makruh yang pada hakikatnya tidak berdosa, ujung-ujungnya akan tetap bikin merasa berdosa. Ada rasa kasihan terhadap si perkara makruh, yang selamanya cemar. Yang makruh jadi tidak bisa dipakai dakwah, dan barangkali tidak bakal tersedia di Firdaus sana.

Berdamainya saya dengan makruh bermula ketika saya berhasil menemukan kegunaan yang bagus untuk konsep pemasygul umat ini: ia memperbolehkan penggunaan yang serupa di luar koridor religius. Pada jalur pemikiran modern yang liberal (“Barat”, kata Pak Ustadz), suatu gagasan akan melulu dipandang sebagai “baik”, kecuali secara mendasar bersifat merugikan orang lain. Kecenderungan berprasangka baik ini semangatnya positif, tapi sering membuat bingung orang Timur, apalagi yang kampungnya bukan daerah metropolitan. Umpamanya perkara-perkara yang sifatnya hedonis seperti obat rekreasi atau apalah yang berkaitan dengan ranjang — kesannya tidak wholesome, tapi kalau tidak menerima dengan tangan terbuka kesannya berpikiran sempit. Sebab toh kalaupun ada efek samping yang merugikan, itu penyalahgunaan oleh manusia. Masakan dilarang?

Jadi mungkin tidak perlu dilarang, namun tidak semua yang boleh dicoba perlu dicoba. Makruh! Ini bisa terdengar menceramahi dan tidak sepenuhnya nyaman memang, tapi saya kira cara pandang yang lebih baik. Penerapannya tergantung pribadi masing-masing. Menurut pandangan saya, umpamanya, makruh sekuler ini mungkin tolak ukurnya apabila yang diperkarakan tujuannya kesenangan yang murni indrawi. Atau apalah. Saya ingat Pak Stephen Fry di dokumenter Stephen Fry in America: setelah dengan positif membahas sebuah kasino, dia mengagetkan saya dengan tiba-tiba “memakruhkan” semua yang barusan dia ramah-tamahi. “Saya tidak anti-perjudian,” katanya membuat anti-klaim, tapi buatnya bisnis kasino itu “vulgar dan teramat menyedihkan.” Ternyata bisa dibuat pemakruhan seperti itu.

Gambar: Wikimedia Commons