Civilisation

Mengapa Anda Ada Baiknya Belajar Bahasa Asing Tidak Sambil Bermain-Main

Saya perhatikan permainan komputer sering “dimanfaatkan” oleh anak sekolahan sebagai ajang main-main yang halalan thayyiban — sebab konon membantu berlatih bahasa asing.

Paling tidak di zaman saya dulu (paruh awal 2000-an), anak-anak pemain game di sekolah menengah Indonesia punya privilese hebat: kami bisa bersenang-senang tapi seolah sedang menyokong pelajaran. Mujurlah kami tidak lahir di Amerika, Eropa, Jepang, atau Singapura — sebab sebagai kaum yang bahasa ibunya terpinggir, ketika hendak memainkan game komputer, bahasa yang dipakai otomatis asing dan perlu dipelajari dulu. Nah kebetulan belajar bahasa asing (sebetulnya sih spesifik Inggris saja) itu kemampuan yang lebih kurang sejalan dengan belajar yang formal. Jadilah kami setengah menipu diri sendiri: ini bukan bermain; ini sedang belajar.

Bermain musik atau sepak takraw tidak memberikan alibi sebagus itu. Paling banter Anda disebut mempunyai keahlian yang baik, walau kurang mendukung prospek mencari uang. Maksudnya, paling tidak anaknya tidak ngelém. Faedah yang diterima toh tidak semeyakinkan “kemahiran berbahasa Inggris”, karena tidak menunjang pekerjaan yang serius. “Bisa tendangan bebas à la Cristiano Ronaldo” biasanya tidak Anda tulis di CV, ‘kan? Pengecualiannya barangkali kalau Anda dulu jadi tukang kibar bendera, yang mungkin ada lah muatan kedisiplinannya. Tapi apa menyenangkannya itu? Mendingan ngelém saja sudah.

Dan Anda juga bisa “bangga” menunjukkan ke guru atau orang tua bahwa kegiatan yang dianggap kurang berguna oleh mereka ternyata bermanfaat. Oh, ternyata Si Badu sedang belajar! Demikianlah kira-kira. Ini penting.

Tidak lantas semua permainan bisa dijadikan alibi begitu memang. Main game-game sepak bola, yang komentatornya waktu itu malah berbahasa Jepang, lebih susah dibela. Jika berminat, yang Anda mainkan haruslah yang banyak unsur percakapannya — umpamanya game-game RPG. “RPG” waktu itu, pada kosa kata komunitas dan media di tanah air, merujuk secara spesifik ke JRPG, tipe simulasi pertempuran skala kecil yang banyak dialognya. Volume dialog tersebut menjadikan genre ini senjata maut kalau mau “belajar bahasa Inggris” sambil bersenang-senang. Apabila ingin yang teksnya lebih banyak lagi sebetulnya dulu bisa, tapi umumnya berupa “novel visual” yang porno. Kalau Anda waktu remaja dulu ternyata mampu, secara terbuka, mengakui main game mesum untuk “belajar bahasa Inggris” di hadapan keluarga, ada bagusnya pelajaran bahasa jangan dijadikan prioritas dulu…

Ya tidak salah memang kegiatan demikian. Tidak salah pula mencoba memberikannya manfaat dengan sekalian berlatih bahasa Inggris. Hanya saja, selain kurang efisien, kadang saya terpikir: apa ini biang kerok “bahasa Inggris Indonesia” yang marak di media sosial?

Mempelajari bahasa asing melalui medium hiburan memang tidak dianjurkan. Kalau Anda coba menanyai guru les bahasa soal itu, jawabannya paling juga “tidak dianjurkan,” dan dia bukan sekadar melindungi keperluan dompetnya — memang tidak dianjurkan kok. “Tidak dianjurkan” bukan berarti jangan dilakukan; itu tentu lebih bagus dari tidak belajar sama sekali, dari belajar cuma sedikit, atau dari belajar banyak dengan metode-metode yang kurang dinikmati siswa. Hanya saja, jalur belajar yang paling baik tetaplah melalui jalan yang lebih lumrah dan membosankan. Komplementer saja sifatnya, dan tidak baik dijadikan jalur utama.

Adapun yang saya maksud dengan “bahasa Inggris Indonesia” adalah apa-apa yang sering saya baca/dengar dari orang Indonesia, biasanya muda, ketika berbahasa Inggris. Tentu tidak semuanya “bersalah”, malah mungkin bukan mayoritas, tapi yang pasti banyak. Karakternya berupa penekanan pada slang dan penggunaan tata bahasa yang kurang tertib. Grammar-nya agak compang-camping, tapi “g” pada “-ing” ngotot digantikan dengan apostrof. Banyak carut-marut pula, kadang dengan regionalisme yang tidak sesuai. Sentimen yang serupa bisa Anda temui pada komunitas-komunitas penggemar animasi Jepang: belajar bahasa Jepang kok dari animé! Sama saja Anda berbahasa Indonesia lewat sinetron atau gaya terjemahan komik Indonesia. Lain lah.

Ini bukan menggurui. Bukan pula peduli. Hanya saja, menengok “@aby_juveee1987” dan “@RidhoCatalonia” beradu teks di Twitter dengan bahasa Inggris yang hidup-segan-mati-tak-mau, itu mengganggu sekali. Jadi ini kategorinya mencibir. Kurang terpuji memang, tapi esensial pada hidup dan kehidupan.

Gambar: Final Fantasy Tactics

More stuff

Previous:

Next: