Review

James May’s Toy Stories

Sesi nostalgia mahal oleh James May sebagaimana disiarkan di BBC Two.

Cara menyupir saya dalam perjalanan singkat ini,” seloroh James May sebelum berangkat, “akan menebus tuntas sejarah keugal-ugalan mobil van di jalan raya. Karena akan tertib sekali. Saya akan menyupir seperti orang suci.”

Yang sedang diangkut oleh May di atas van-nya — mungkin Anda kenal dia sebagai presenter program otomotif Top Gear — adalah sekian kuintal bunga-bunga tiruan yang dibuat dari lilin mainan. Kawasan yang dia tuju waktu itu “piala dunia”-nya berkebun: RHS Chelsea Flower Show di London. Dia hendak adu berkebun dengan para ahlinya, tapi hanya memakai bunga jadi-jadian. Lancang memang dia mendaftar di situ.

Terlihat dia menyupir dengan waswas. Goyang sedikit, bunga lilin yang dibawa bisa rusak. “Ini seperti kalau Anda menyupir mobil sambil membawa gulai. Gulainya menjadi benda terpenting sealam semesta. Kalau ada orang yang tiba-tiba menyeberang… Apa boleh buat. Mampuslah dia.”

Untungnya tidak ada yang mampus di perjalanan itu.

Rangkaian kegiatan seperti itulah yang disajikan oleh James May’s Toy Stories, program dokumenter BBC Two yang tayang di penghujung tahun 2009. Isinya proyek-proyek aneh yang melibatkan mainan-mainan zaman baheula. Ini cara May menghidupkan kembali masa kecilnya, dengan menyorot satu produk mainan yang dulu ia gemari dan mencoba mempopulerkan mereka kembali. Caranya dengan membuat versi yang lebih besar, lebih ambisius, dan tentunya lebih mahal. Contoh di atas berasal dari episode kedua: membuat kebun dari plastisin dan mengikutsertakannya di kejuaraan bergengsi.

Saya niat menonton serial ini awalnya dari rumah Lego yang legendaris itu (episode 5). Berita ini cukup nyaring kedengaran sekitar tiga tahun lalu, tapi waktu itu saya tidak awas bahwa pelakunya adalah James May yang sama dengan James May yang pentolan Top Gear. Karena ini merupakan bagian dari sebuah serial televisi Inggris, yang terkenal pendek-pendek, maka saya putuskan untuk menonton keseluruhan acaranya sekalian.

Konsep setiap proyek serupa dengan dua contoh yang telah disebut. Dengan lilin mainan, alih-alih bikin asbak, dia bikin kebun. Dengan Lego, alih-alih bikin gedung seukuran kotak sepatu, dia bikin rumah betulan.

Yang paling menyenangkan dari acara ini adalah sentimentalitasnya. Pada masing-masing episode, sejarah mainan yang tengah disorot turut dibahas oleh May, dijalin dengan pengalaman pribadinya sewaktu masih bocah. Kemudian dari mainan tersebut dia gagaskan versi spektakulernya, seringkali dengan kemampuan manajemen yang agak tumpul. Nah, dalam proyek-proyek ini May sengaja bergantung pada bantuan sukarela masyarakat awam yang berhasil dibujuk — ini yang saya sebut menyenangkan dan sentimental. Walau tetap disokong oleh dompet BBC dan jasa insinyur-insinyur untuk keamanannya, pekerjaan kasar seperti menyusun Lego atau membuat bunga lilin adalah melalui keringat orang awam.

Episode 1: Airfix

Mainan: Airfix

Proyek: Airfix skala 1:1

Pengetahuan saya soal ini kurang. Apa ada Airfix atau barang sejenisnya di Indonesia? Di toko-toko mainan (atau, “toko hobi”, yaitu eufemisme buat toko mainan bapak-bapak dan mas-mas) memang ada model-model rakitan, tapi apa sama? Yang saya akrabi paling versi abal-abalnya yang sering diikutkan sebagai hadiah makanan-makanan ringan. Pokoknya, Airfix itu jenama model rakit-merakit, terutama pesawat tempur. Ini tipe model yang juga harus dicat. Anda bisa tengok versi raksasanya pada gambar di samping kanan.

Toy Stories sendiri mengakui bahwa mainan ini sekarang cuma konsumsi terbatas bapak-bapak. Oleh sebab itu, May berambisi memperkenalkannya pada generasi Xbox, melalui segerombolan anak kelas dua SMP. Tentunya kurang seru kalau hanya model biasa yang dipakai, jadi May memesan model pesawat tempur Spitfire skala 1:1. Setelah diajak berlatih dengan model-model biasa, anak-anak ini diperintahkan untuk menyusun dan mengecat model ukuran monster yang disediakan.

Pembuatan pesawat yang dipakai sebetulnya sulit, karena selain kokoh, dia juga harus ringan. Bahan yang dipakai adalah fiberglass, yang cukup ringan untuk anak-anak, tapi akhirnya terlalu ringkih dan membutuhkan sebilah sanggaan logam pada bagian dasarnya (diletakkan pada dasar sayap yang melintang). Supaya lebih manis, May juga memesan patung skala 1:1 dirinya sebagai pilot. Proses penyusunan dilakukan di bekas pabrik Spitfire di masa perang, dan himpunan pilot-pilot veteran juga diundang untuk melihat hasil jadinya kemudian.

Walau anak-anaknya susah diatur dan agak bandel, model gergasi ini berhasil rampung dan kemudian dipamerkan kepada para veteran undangan di hari yang sama (seperti anak-anak penyusunnya, mereka juga tidak diberitahu kalau skalanya 1:1). Pesawat palsu ini lalu diletakkan di Museum Angkatan Udara pada beberapa pameran terpisah.

Episode 2: Plastisin

Mainan: Plastisin/lilin mainan

Proyek: Taman/kebun dari plastisin

Ini mungkin episode yang paling saya nikmati — barangkali karena lilin mainan/plastisin juga ramai dikonsumsi (dimainkan, bukan dimakan) di Indonesia. Pada awalnya, May mengetes tanggapan masyarakat dengan menggelar lilin-lilinnya di tempat umum. Sambutannya lumayan baik, tapi pada waktu itu belum jelas apa proyek gila yang bisa dibikin. Atas masukan Terry Harbutt, cicit dari penemu plastisin William Harbutt, dia putuskan untuk membuat taman. Masalahnya adalah, di mana? Bidikannya tak tanggung-tanggung, Piala Dunia Tukang Kebun 2009 (ini istilah saya saja) di Chelsea.

Birokrasinya saya duga agak berbelit-belit, karena keikutsertaannya tidak lazim, tapi di layar kaca disederhanakan dan dikonyol-konyolkan. Selain memerlukan izin khusus, kemungkinan mendapat penghargaan juga sangat kecil — sebab tentu tak bisa dinilai dari kesehatan tanamannya, kualitas tanahnya, atau apalah. Wong lilin kok.

Pembagian pekerjaannya menarik. Untuk “produksi massal” berbagai bunga, digunakan sanggar-sanggar kerja di mal. Beberapa jenis bunga khusus masing-masing diserahkan kepada kelompok-kelompok seperti anak sekolah dan pensiunan. Buah-buahan untuk pepohonan diserahkan kepada beberapa mahasiswa (“Kerja mereka sangat bagus. Juga, eeh, bayarannya murah,” kata May). Di bawah pohon besar (juga lilin) direncanakan tikar piknik dan bermacam-macam makanan—ini agar ada pula kesempatan membuat makanan-makanan lilin. Tugas membuat aneka kudapan ini disebarkan ke sejumlah restoran dan tukang kue. Ada juga rangkaian bunga yang pengerjaannya oleh sebuah kuil Hindu di London, patung William Harbutt oleh seorang perupa (katanya cicit dari Sigmund Freud), juga buah-buahan, sayur-sayuran, sarang burung, dan detail-detail lain yang saya lupa dihasilkan siapa.

Taman ini (“Paradise in Plasticine“), meskipun nilainya acakadut karena memang disertakan lebih sebagai tamu saja ketimbang peserta serius, nyatanya populer di mata khalayak ramai. Total lilin yang dipakai melebihi dua setengah ton, dan total sukarelawan ada di sekitar angka 2.000 orang. Untuk menghormatinya, pihak penyelenggara menghadiahkan taman ini medali lilin dan gelar People’s Choice untuk kategori taman kecil.

Instalasi ini sekarang sudah dipindahkan secara permanen ke dalam sebuah pusat perbelanjaan.

Episode 3: Meccano

Mainan: Meccano

Proyek: Jembatan Meccano

Sejujurnya, saya waktu menonton tak tahu apa itu Meccano. Entah memang kurang pergaulan, salah generasi/lokasi, atau memang mainannya tidak lumrah di Indonesia, saya pun kurang jelas. Setelah coba mencari “meccano indonesia” melalui Google, memang ada yang memasarkannya di Indonesia, dan ada pula obrolan Meccano di Kaskus, tapi saya belum berani bilang semerakyat apa Meccano itu.

Lewat Toy Stories dijelaskan bahwa Meccano adalah mainan tempo dulu berupa lempengan logam dan modul-modul mesin kecil seperti roda, katrol, pegas, pendulum dan lain-lain. Jadi tujuannya membuat mesin-mesin atau model-model sederhana, yang bisa berfungsi (mis. komedi putar, karusel) dan bisa tidak (mis. miniatur). Ini kelihatannya untuk anak-anak harapan bangsa dan berbeda pangsa pasarnya dengan Tazos.

Karena asing dengan subjeknya, saya jadi sedikit tersesat. Lebih kurang begini. Proyeknya berupa jembatan kecil, yang kalau dipikir-pikir nekat juga — beban yang mesti ditopang pastinya amat berat. Ada beberapa proposal jembatan yang diajukan, dan yang terpilih yaitu jembatan nyeni yang kalau dilihat sepintas kilas tidak menyerupai jembatan. Untuk menggunakannya, Anda mesti melewati separuh jembatan yang berupa lengkungan dengan pemberat. Tujuannya, kalau sudah sampai di tengah-tengah, jalan yang barusan dilalui akan naik ke atas dan Anda tidak bisa kembali (“bridge of no return“). Paruh kedua jembatan berupa jembatan ayun, dan di ujungnya ada patung burung Liver yang bisa mengepakkan sayap. Kenapa burung Liver? Karena proyek ini bertempat di Liverpool, kota asal Meccano. Yang diperbudak oleh May adalah sekelompok mahasiswa teknik Universitas Liverpool.

Lebih dari 100.000 lempengan kecil habis terpakai, dan jembatannya sempat jatuh dari derek sehingga rusak di beberapa bagian. Ini menambah rasa waswas: Apakah berhasil? Apakah James May jatuh ke sungai?

Kalau hasilnya kacau tentu tidak masuk TV. Seperti model Spitfire raksasa dan taman plastisin, proyek yang ini juga memegang rekor dunia, jadi sampai sekarang masih bisa Anda temui di Fakultas Teknik Universitas Liverpool.

Episode 4: Scalextric

Mainan: Scalextric

Proyek: Mengadakan balap Scalextric di atas bekas sirkuit Grand Prix di Brooklands.

Ini soal familiaritas barangkali sama dengan Meccano di atas: saya juga pada waktu itu tidak tahu Scalextric itu apa, tapi ternyata diedarkan di Indonesia dan ada topiknya di Kaskus (walau isinya juga “Ini apa, Gan?”). Akan tetapi mestinya kita tidak setersesat sebelumnya sebab mekanisme Scalextric mudah dipahami. Mainan ini berupa sirkuit dan mobil, dan ditujukan untuk balapan. Sirkuitnya bisa dialiri listrik melalui tombol yang bisa Anda pencet, dan mobilnya akan maju. Mirip dengan Tamiya (“Tamiya” apa nama generiknya?), tapi Anda bukan cuma bengong.

Rencana untuk episode ini adalah menghidupkan kembali sirkuit di Brooklands, Surrey, Inggris. Ini gelanggang balapan pertama di dunia, tapi sudah bubar tahun 1939. Tim produksi berniat membuat sirkuit Scalextric raksasa di atas bekas sirkuit betulan tersebut dan mengadakan balap Brooklands sekali lagi, setelah 70 tahun. Bedanya, kali ini hanya balap mobil mainan.

Repotnya apa, sirkuit ini sudah mati begitu lama, sampai laluannya sekarang sudah berupa perumahan, kantor, empang, gorong-gorong, pagar, jalan, dan segala macam rintangan yang membuat menggelar sirkuit Scalextric menjadi susah. Tapi semuanya bisa diatur — tinggal minta izin, mungkin pakai amplop sedikit, tambah sedikit trik menyusun, dan semuanya bisa jadi. Masalahnya tinggal mencari pembalap; menurut mekanisme permainannya, mesti ada “pembalap” yang mengaktifkan lempeng sirkuit tiap beberapa meter. May membentuk dua tim: warga setempat melawan klub Scalextric lokal. Yang awam kemudian dilatih.

Sukarelawan untuk episode ini sekitar 400 orang, yang membantu menyusun sirkuit sepanjang 4,75 kilometer menggunakan ~20.000 kepingan. Bagian balapnya diliput dengan cara tahun 1920-an, yaitu dengan reportase radio, sehingga kita tidak bisa melihat secara langsung di mana mobilnya dan harus bergantung pada suara peliput. Ini lebay memang, tapi enak sekali ditonton, karena berupa balap dan sederhana saja menikmatinya. Supaya tahu siapa yang menang, mungkin Anda perlu nonton sendiri.

Pemecahan rekor episode ini lebih resmi: pada bagian akhir acara, orang dari Buku Rekor Dunia Guiness datang menyerahkan piagam untuk sirkuit Scalextric terpanjang. Karena strukturnya lebih sederhana, sekarang jelas sudah dibongkar dan tidak bisa dilihat.

Episode 5: Lego

Mainan: Lego

Proyek: Rumah Lego. Juga, tinggal di rumah tersebut selama satu hari.

Ini proyek Toy Stories yang paling terkenal, bahkan lebih terkenal dari taman plastisin tiga episode sebelumnya. Yang disorot adalah Lego, mainan bongkar-susun warna-warni yang bisa Anda bikin jadi apa saja dan sangat menyakitkan kalau tak sengaja terpijak. Pernahkah punya sewaktu kecil? Atau punya sekarang untuk anak Anda, kalau berkeluarga? Saya dulu punya sedikit, kelihatannya set model rumah karena saya ingat ada lempeng-lempeng tipis dan besar untuk dijadikan rumput. Saya lupa ini Lego betulan atau tiruannya. Seharusnya asli karena ada hak paten.

Jadi begini. Dengan Lego, May membuat rumah. Rumah betulan, dan dua tingkat pula. Perlu lebih dari tiga juta keping.

Rumah Lego ini dibangun di tengah-tengah kebun anggur di Dorking, dan ternyata tidak dibuat dengan menyusun kepingan Lego satu demi satu. Sebaliknya, sukarelawan membuat bata-bata Lego terlebih dahulu, barulah bata-bata tersebut dipakai untuk membangun rumahnya. (Gambar anak kecil dengan Lego di atas tadi memperlihatkan pembuatan bata.) Pada hari pertama, ada 1.200 sukarelawan yang mengantri sejak subuh; 1.500 pengantri tidak kebagian tempat di sanggar kerja.

Atas alasan keamanan, di dalam Lego-Lego yang disusun ada pula kerangka dari kayu. Ketika bangunannya berdiri, kerangka kayu ini tidak menyentuh Lego-nya, sehingga lebih berfungsi sebagai pengaman kalau bangunannya sewaktu-waktu kolaps. May tidak menyukai ini — sama seperti ketika harus ada penyangga logam untuk model pesawat raksasa di episode 1 — karena dia pikir merusak kemurnian proyek, tapi kalau tidak begitu tidak bisa mendapat izin membangun. Selain pembangunan rumah, secara terpisah ada pembangunan interior dan barang-barang seperti ranjang, meja-kursi, pot-pot bunga, sampai telepon palsu, kompor palsu, dan seterusnya, semua dari Lego. Ternyata ada air mengalir juga, tapi bocor-bocor karena dialirkan menggunakan Lego.

Rumah ini sekarang sudah tidak ada lagi; lima hari setelah diliput, bangunannya dibongkar dan keping-keping penyusunnya disumbangkan ke lembaga-lembaga amal. Ada rencana untuk dijual saja sebagai karya seni (ditaksir sekitar £500.000) tapi pemindahannya menyulitkan, sehingga batal.

Episode 6: Kereta Mainan & Episode 7: The Great Train Race

Mainan: Kereta api mainan Hornby

Proyek: Merekonstruksi jalur kereta Barnstaple–Bideford dengan kereta mainan (episode 6); proyek yang sama, ditambah balapan tiga kereta (episode 7).

Ini mungkin juga jenama asing, tapi toh tak sulit dimengerti. Yang dipakai adalah kereta model biasa, yang jalan sendiri tanpa dikontrol. Walau beda pada skema pengendaliannya, proyek yang dibuat mirip sekali dengan episode 4: ada jalur kereta yang sudah almarhum (Barnstaple–Bideford) dan May berniat membangkitkannya barang sehari dengan versi mainan. Jalurnya panjang sekali, 16 kilometer, sehingga masyarakat juga dilibatkan dalam penyusunan rel, plus pembuatan miniatur stasiun di kedua ujung jalur. Orang-orang dari Miniatur Wunderland, istana kereta model terbesar di dunia, turut dihadirkan sebagai konsultan.

Kereta model dibahas pada episode terakhir karena, menurut May, mainan inilah yang paling dia sukai. Dari lima kereta yang dijalankan, yang pertama adalah kereta tua kesayangannya sejak kecil. Mampukah kereta tua reyot ini berjalan sampai tujuan? Yaa, kalau gagal, tentu tidak masuk TV.

Eh, tapi ternyata gagal. Tentu saja masuk TV-nya karena sudah terlanjur diliput. Gagal sebab semua kereta rusak sebelum sampai ke Bideford; kereta kesayangan May malah langsung semaput setelah hanya beberapa meter. Kereta terakhir berhenti ketika sudah tengah malam, di antara penonton yang tabah menunggu seharian. Sayang sekali. Acara ditutup dengan narasi berbunyi lebih kurang “Apa boleh buat. Ini juga sudah membanggakan.”

Akan tetapi barangkali karena gemas, dua tahun kemudian (2011) diadakan satu episode tambahan untuk menebus kesalahan episode 6. Kali ini formatnya sedikit berbeda selain berupa episode lepas — pengerjaannya sebagian besar ditangani oleh tim produksi dan ada dua jalur yang dibangun sebab tujuannya adalah balapan. Yang bertanding ialah tim Inggris yang diwakili May melawan tim Jerman yang diwakili Miniatur Wunderland.

Masing-masing tim menggunakan tiga kereta yang temanya berbeda-beda; kereta antik, kereta modern, dan kereta eksperimental. Untuk memenangkan pertandingan, satu tim mesti memenangkan dua balapan atau lebih. Belajar dari kesalahan percobaan sebelumnya, secara teknis semua sudah diperhitungkan dan acara lebih berpusat pada trik-trik membalap kereta.

Sama seperti instalasi sementara lain, bekas-bekas dari dua episode terakhir ini setahu saya tidak bisa Anda kunjungi.

Keseluruhan acara yang tengah saya bahas bisa Anda tengok sendiri di YouTube; seingat saya masing-masing episode mereka potong sebanyak enam bagian supaya muat dalam batas waktu 10 menit. Ringkasan di atas sebenarnya agak serampangan, jadi ada baiknya Anda tonton acara aslinya saja. Harusnya Anda terhibur, sebab dikerjakan oleh James May yang seorang pentolan Top Gear — acara yang dirancang sedemikian baiknya sampai-sampai kita bisa gemari tanpa tahu “mobil” itu apa.

Seperti yang telah saya sebutkan, selain bisa dihayati dari segi nostalgia dan segi ke-insinyur-an, yang menonjol dari acara ini yaitu sentimentalitasnya. Memang betul, ada sulap-sulap penyuntingan yang menjadikan banyak hal lebih cerah dari sebenarnya, tapi hal-hal kecil lah itu. Sedikit mengecewakan adalah episode-episode kereta, yang saya amati jauh lebih berantakan dari lima episode pendahulunya. Pada episode 6, misalnya, baterai-baterai yang dipersiapkan ternyata banyak dicuri dan sebagian jalur dirusak oleh beberapa vandal. Pada episode khusus, terlihat sekali banyak adegan yang artifisial dan tidak organis, walau masih menghibur (terutama ulah-ulah tim Jerman yang enak diperhatikan). Episode 1, 2, dan 5 saya rasa terbaik untuk coba-coba menonton.

Perlukah dibuatkan versi Indonesianya? Tapi apa yang harus kita bikin? Apakah mobil jeruk Bali raksasa? Tapi itu bagaimana kira-kira cara membuatnya, apa disambung-sambung dari ribuan jeruk Bali, atau perlu rekayasa genetis dulu untuk memproduksi satu jeruk Bali raksasa?

Gambar James May dan pohon di taman plastisin dari situs BBC. Gambar-gambar sisanya dari tangkapan layar.