Civilisation

Praduga Tak Munafik

Mengapa sering sekali menumpukan argumentasi pada kemungkinan/keyakinan bahwa lawan kita kurang disiplin dalam menegakkan apa yang mereka khotbahkan?

Munāfiq sejatinya merujuk kepada ketidakjujuran dalam beriman Islam. Tapi jargon lah ini, kurang membumi. Munafik dalam Bahasa Indonesia lebih luas pengertiannya, yaitu ketidakjujuran secara umum; lain apa yang di mulut dengan apa yang diperbuat. Ini tidak baik, sebaiknya jangan dibiasakan. Tengok, umpamanya, kaum Farisi yang habis dihardik oleh Yesus karena keimanannya hanya di bahagian luar saja.

Saya pernah membaca satu kritikan pedas buat komedian-satiris kondang Bill Maher (konon selebritas liberal yang paling menyebalkan setelah Michael Moore). Disebutkan (tidak verbatim), “Yang ngawur dari Bill ialah, apabila dia tak sepaham dengan seseorang, maka dia akan meyakini bahwa yang bersangkutan adalah munafik.” Kita sama-sama akrab dengan cara berpikir seperti ini. Orang-orang yang kritis terhadap gereja Katolik Roma, misalnya, wacana yang dibawa ke meja diskusi biasanya klise: skandal putra-putra altar.

Kemudian, apabila kita periksa sastra dan cerita-cerita kita, akan kita jumpai pola serupa. Kadang penulis menginginkan tokoh antagonis yang tidak terlalu kartun, tapi tidak sampai hati/tidak sampai kemauan untuk membikin yang terlalu kompleks hingga membingungkan pemirsa. Di situ nanti akan banyak digunakan sifat munafik sebagai “obat”-nya: apabila penjahatnya agamawan, ternyata dia tidak betul-betul saleh dan malah diam-diam korup/main perempuan/sadis/mendukung AC Milan/kebiasaan tak terpuji lainnya. Kalau sudah demikian ‘kan jadi bisa dibantai oleh para jagoan, tanpa beban.

Mengapa lompatan kesimpulan semacam ini menarik buat kita? Barangkali karena pihak yang terbukti munafik cenderung halal untuk tak digubris argumentasinya di atas meja diskusi. Lewat kacamata logika tentu saja suatu gagasan bisa tetap benar meskipun yang mengucapkan gagal mempraktikkannya secara pribadi, tapi memang pada dunia nyata, kalau sudah ketahuan munafik, diskusi berakhir di situ.

Lebih aktualnya: apakah FPI munafik? Kelihatannya sih seperti itu. Tapi hemat saya, pada diskusi, tudingan seperti itu sebaiknya jadi poin sekunder saja. (Jangan dihilangkan! Sekadar ditaruh di baris kedua.) Sebab sekalipun mereka jujur dan konsisten dengan kepercayaan mereka, tidak lantas jadi benar dan patut ditoleransi. Bukannya tidak penting, tapi lompatan begini sering sekali muncul di berbagai diskusi, dan kadang malah agak berbahaya. Mengapa? Karena seolah-olah ketidaksetujuan kita kita tumpukan pada tuduhan itu, dan apabila seandainya beberapa tuduhannya keliru, akan kelihatan seakan-akan protes yang kita ajukan jadi melemah validitasnya. Kurang adil, dan, sialnya, ulah kita sendiri pula.

Ini tidak spesifik berkenaan dengan FPI, sebetulnya, hanya membuat teringat saja. Malah boleh jadi kasus FPI adalah contoh yang kurang baik. Yang lebih konkret ada pada materi-materi polemisis seperti Maher di atas — gelanggang politik, agama, dan yang “berat” lainnya ya pasti berserakan lah yang seperti ini. Pemilu tuduh-menuduh hipokrit justru wajar, sebab fokusnya ‘kan memang kwalitet dan integritas individu. Kalau sudah menyangkut adu gagasan, munafik/tidak munafik memang tempatnya ada di baris kedua.

Eh, tapi ini cuma meracau karena tak bisa tidur saja. Tak perlu diseriusi. Kalau Anda serius, nanti saya terpaksa ikut serius pula. ‘Kan tidak menyenangkan itu.

Gambar: James Tissot, “Malheur à vous, scribes et pharisiens” (c. 1894). Life-Giving Water Devotional.