Civilisation

(Junk) Food for Thought

Ada kebijaksanaan dan ada “kebijaksanaan” — yang terakhir ini cetek dan langsung layu ketika substansinya kita periksa secara serius. Bahasa Inggrisnya, platitude. Bahasa Indonesianya entahlah. Barangkali berbahaya, barangkali tidak; tapi seringnya menyebalkan.

Katanya ini obesitas intelektual.

Jadi begini. Baru saja ada lacak-balik yang mampir ke blog ini. Bunyinya: “Jadilah Diri Sendiri dan Berfikirlah Secara Positif Agar Anda Sukses Besar dan Dikagumi Orang Karena Meskipun Anda Luar Biasa Hebat Anda Itu Ternyata Orangnya Baik Hati dan Tidak Sombong Seperti Piyu Padi“. Adapun judul aslinya bahkan lebih panjang dari itu, dan saya tak paham benar mengapa nama Piyu Padi dibawa-bawa — tapi isi gerutuan Mas Gentole ini memesona sekali sehingga saya batal berkomentar dan langsung sekalian menyusun esai balasan. Ada baiknya Anda singgah ke sana dulu supaya mengerti duduk persoalannya.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mencari solusi; hanya untuk bahan obrolan saja. Juga sedikit acakadut susunannya, akibat berupa ide kurang matang yang langsung dibawa ke dapur. Kemauan (dan kemampuan) hanya sampai ke sana, harap maklum.

Apa dan siapa: supaya tidak rancu

Mari saya coba perjelas dulu siapa yang tengah “dimarahi” oleh tulisan yang ditautkan di atas. Tafsiran saya seperti ini: pertama, yang dituju yaitu orang-orang yang menghasilkan atau ikut menyebarkan gagasan-gagasan atau falsafah-falsafah yang dangkal. Dangkal, maksudnya bukan berarti salah, melainkan terlalu sederhana, tata pemikirannya kurang baik, terlampau wishful thinking atau apalah yang membuatnya terkesan asal-bikin dan lembek, langsung lumer dan lebur kalau kita periksa dengan cara berpikir yang benar.

Tetapi, menghasilkan atau menyebarkan gagasan tentu saja bisa secara hati-hati dan kritis. Bisa dengan nada santri dan bukan nada imam — maksudnya, gagasan itu dikemukakan seolah-olah sebuah hipotesis (“Rasa-rasanya masuk akal juga kalau hidup mesti sebagai diri sendiri.”) dan bukan sebuah aksioma (“Jadilah diri sendiri!”). Maka kita sempitkan lagi golongan yang kita tuju: mereka harus memiliki delusions of grandeur. Merasa bahwa diri sendiri sudah bijak dan apa-apa yang disebutkan sudah mencerahkan.

Gaya berpikir yang gegabah seperti di atas sebetulnya masih bisa mengantar kita ke berbagai merk pemahaman. Namun apabila menilik judul dan berbagai “contoh” yang disediakan, ada satu kiblat yang lebih disorot: yaitu pemikiran terang-benderang dan riang-gembira seperti yang dijual oleh buku-buku pengembangan diri atau juru-juru motivasi. Jadi remaja tanggung yang menganggap dunia itu hampa, mendengarkan musik depresif dan sesekali menyitir Nietzsche sekenanya itu tidak termasuk oknum-oknum yang dibidik. Kita bahas lain kali saja. Yang ada di kepala Mas Gentole nampaknya lebih ke orang-orang yang melihat dunia seperti di dalam iklan “tanggung jawab korporat” perusahaan multinasional: orang-orang tertawa riang dalam slow motion, musik dramatis disetel di belakang, dan ada narasi yang menenangkan tentang hidup, kehidupan, dan masa depan.

“Tiap tarikan napas adalah hadiah. Tiap detik adalah anugerah. Kami di Banalitas.org percaya, bla bla bla…”

Orang-orang seperti ini saya rasa semakin gampang ditemukan, dan boleh jadi sekali-kali kita pernah khilaf terjerumus ke lubang yang sama. Ada beberapa kelompok dan stereotipe yang disebutkan di sana, bisa kita kategorikan berdasarkan jumlah telinga yang mendengarkan ocehan mereka. Yang kelas teri tentu kita semua kenal: kawan yang entah tertiup angin apa membual tentang hidup ketika kita ajak makan siang, dan karena segan menggeleng kita hanya mengangguk-angguk sampai keseleo. Lalu ada yang audiensnya lebih luas, yaitu mereka para blogger yang terkena waham ini. “Blogger senior seleb medioker”. Kelas kakap. Kemudian barulah kelas hiunya, yaitu para motivator, yang di situ dituding sebagai pengusaha waralaba kebijaksanaan. Ini istilah yang hebat sekali (McPhilosophy?) dan saya sempat kecewa karena ternyata tidak banyak dipakai.

Pokoknya orang-orang demikianlah yang saya pahami sebagai tersangkanya. Orang-orang demikian yang disinyalir keliru. Semoga telah jelas dan tidak akan ada peluru nyasar.

Kebijaksanaan sebagai piala suci

Saya kira wajar apabila orang ingin jadi bijak. Tidak paham benar saya bagaimana persisnya, tapi bagi tatanan budaya kita kebijaksanaan itu, saya rasa, sudah seperti piala suci (holy grail). Anda boleh bilang Anda tidak perlu apa-apa yang secara tradisional dianggap berharga: harta, tahta, atau wanita/pria. Anda juga boleh bilang tidak butuh jadi rupawan, atau bahkan tidak butuh jadi sehat wal’afiat. (Langsung terbayang mahasiswa kere sok nyeni yang merokok sembilan belas bungkus per hari.) Tapi tidak ada saya rasa yang menolak kebijaksanaan — sebab untuk menjelaskan posisi yang tidak lazim itu kita perlu kebijaksanaan itu sendiri. Jadi sifatnya meta.

Begitu pula orang-orang konon yang “tinggi” perkembangan jiwanya seperti Zoroaster, Musa, Buddha, Konfusius, Yesus, Muhammad, atau Ron Hubbard. Jarang sekali dakwah-dakwah berbunyi: Zoroaster itu ganteng, atau Buddha lihai jahit-menjahit. Jualannya adalah, mereka bijak bestari.

Bahkan dalam komunitas metal.

Pada cerita rakyat, sastra, film, dan sebagainya pun kita lihat bahwa kebijaksanaan dinilai sebagai sesuatu yang otomatis dimiliki oleh karakter-karakter yang “baik”. Bahkan karakter yang terlihat kurang berbudaya pun dapat mengartikulasikan filosofi sederhana — yang ternyata dalam — apabila diperlukan oleh plot (à la Forrest Gump). Terkadang kesannya, itulah yang harus dicapai dalam hidup: kemampuan untuk bermonolog dan menggurui seseorang dengan keren! Mungkin perasaan saya saja, tapi kebijaksanaan di kesadaran populer ini tidak sekadar esensi, melainkan semacam seni bertutur; jadi ada segi puitis yang sebetulnya kurang perlu di situ. Pendeknya begini: jadi bijak itu modis.

Budaya seperti ini apabila dicampur dengan kebebasan informasi, kiranya wajar apabila hasilnya adalah menjamurnya kebijaksanaan dan “kebijaksanaan”, baik di dunia nyata maupun maya. Ini tidak mesti palsu, sebab di atas kertas apabila Anda bisa belajar astronomi, dsb. secara otodidak melalui buku dan Internet, toh Anda bisa pula belajar tentang pemikiran-pemikiran yang mencoba memaknai hidup. Kalau kita ingin sinis, maka “kebijaksanaan” yang di dalam tanda kutip boleh kita artikan sebagai rombongan orang sok bijaksana. Kalau sebaliknya, bisa kita anggap sebagai orang-orang yang tengah berupaya bijaksana. Tergantung mood Anda dan bagaimana si penceramah membawa dirinya.

Iya betul, hidup bukan ilmu pasti; siapa saja berhak bicara. Tapi di sisi lainnya, siapa saja berhak menilai omongan yang dibicarakan tersebut.

Dangkal tanda tak dalam

Seperti apa nasihat-nasihat yang tak dalam kita sudah sama-sama familiarlah. Umpamanya, nasihat “jadilah diri sendiri”, yang entah kenapa tidak pernah dikasih kepada maling jemuran yang mencoba insyaf. Atau “hidup adalah pilihan”. Bermain sepakbola juga berupa pilihan: ketika bola mampir di kaki-kaki Anda, itu bola bisa Anda oper ke kawan Anda, bisa pula Anda coba giring ke arah mana sesuka Anda, atau bisa pula Anda coba tembakkan. Sepakbola adalah pilihan — lalu apa? Bagaimana ini bisa membantu pelatih meracik strategi? Hidup memang pilihan, tapi apa relevansinya? Pada banyak kasus di mana klise ini dipergunakan, ‘kan tidak terlalu nyambung sebenarnya. Makanya saya sebutkan di atas, dangkal tidak berarti “salah”.

Salah satu bumbu yang paling laris adalah paradoks. Tulis Salman Rushdie di The Enchantress of Florence melalui mulut jagoan ceritanya, paradoks yaitu “a knot that allows a man to seem intelligent even as it is trussing his brain like a hen bound for the pot.

Kalau menurut pengalaman saya lebih kurang ciri-cirinya seperti di bawah ini. Silakan tambah kalau ingin. (Sengaja singkat-singkat supaya tidak perlu saya pertanggungjawabkan, hohoho.)

  1. Terlampau yakin, dogmatis: Gagasan disampaikan dengan nada pasti seolah-olah sedang memperbincangkan matematika. Sering tidak sebanding antara bobot gagasan dan nada penyampaiannya. Ini masalah paling utama kalau saya bilang.
  2. Wishful thinking: Terlalu cerah dan tidak realistis. Saya juga lelah dengan sinisisme, tapi tidak berarti harus banting stir ke arah sebaliknya.
  3. Menghentikan pemikiran: Thought-terminating cliché. Ini ibarat alkohol untuk akal, hanya membuat lupa.
  4. Menjanjikan kebijaksanaan instan: Termasuk konsep atau tujuan yang katanya gampang dicerna, padahal semestinya tidak.
  5. Mengambang: Tidak terlalu jelas konsep yang dibicarakan, bisa diartikan terserah pendengarnya. Apa itu “kebebasan”? “Hati” itu apa? Nada-nadanya serupa dengan yang di kolom-kolom ramalan bintang. Untuk klise-klise biasa tidak mengapa, tapi kalau diperhatikan lebih serius ini seperti beli keripik kentang; isinya kebanyakan angin.
  6. Berorientasi “jawaban”: Bukan “pencarian” atau “analisis”, jadi hasil akhirnya sudah ditentukan sebelumnya dan kegiatan yang ada hanyalah pencarian rasionalisasi.
  7. Kontan tidak sesuai dengan realitas: Ini yang paling berbahaya, yaitu yang sebangsa The Secret. Biasanya berbau new age atau paling tidak mirip, walau tentu/semoga tak semua new age seperti ini. Ini lain dengan sekadar mencoba memaknai hidup — ini hipotesis ilmiah, dan apabila tidak sesuai dengan apa yang kita ketahui tentang alam semesta, harusnya jangan digubris.

Lantas diapakan?

Saya bayangkan akan banyak yang protes, apa yang dalam bagi satu orang mungkin berbeda dengan orang lainnya. Dalamnya kebijaksanaan tidak seperti dalamnya empang yang bisa diukur. Saya pikir, betul juga. Paling tidak, standar kedalaman yang dipakai boleh jadi tidak sama, meskipun kita sepakat bahwa A lebih dalam dari B atau sebaliknya.

Dihadapkan dengan kenyataan demikian kadang bikin masygul, bimbang apa mencemooh kepercayaan demikian lebih banyak manfaatnya ketimbang mudaratnya. Di satu sisi, tradisi pikir-berpikir itu kaya dan apa-apa yang dianggap lebih berbobot oleh orang-orang di menara gading harus dihargai; tidak boleh asal pukul rata “tergantung individu” atas nama relativitas. Terbayang oleh saya pemuda-pemuda besar kepala yang kebetulan tergolong “sesat” dan muncul keinginan untuk mencoba menjatuhkan mereka. Di sisi lain, kadang yang terbayang justru ibu-ibu dan bapak-bapak biasa yang partisipasinya sebatas menyukai acara-acara motivasi di televisi. Barangkali ini cara berpikir yang naif, tapi saya lembek kalau sudah menyinggung yang demikian. Sekilas ini kesannya intrusif, serupa dengan memolisi asupan budaya lain seperti film atau buku, walau tentu sedikit lebih serius karena menyangkut falsafah hidup. Juga tidak semua yang berbau self-help begitu jelek toh, kecuali sebagian yang tergolong “berbahaya” (lihat di atas).

Jadi yang saya lakukan mungkin sama dengan yang Anda lakukan: apabila situasinya terasa enak untuk mengomentari, ya apa ruginya kalau kita komentari; kalau agaknya kurang pas ya jangan. Semua ini ‘kan sebetulnya ide-ide, dan itu sebaiknya terus diasah dan diperiksa kebenarannya. Akarnya saya duga adalah ide-ide yang (entah bagaimana ceritanya) disampaikan hanya satu arah saja sehingga tak bisa dipertajam oleh argumen balasan. Kultur kursus-kursus motivasi cenderung memupuk gaya komunikasi “khotbah” yang kurang sehat ini, sehingga menjalar ke mana-mana. Soal motivator-motivator itu sendiri sebenarnya tidak terlalu masalah kok, sebab memang namanya “motivator” dan bukan “pemikir”. Boleh jadi Pak Mario di ruang pribadinya berpikir dengan cara yang lain lagi, tapi ketika naik ke atas “mimbar”-nya mesti menukar ke gagasan-gagasan yang positif-positif saja sebab orang datang ke praktiknya ya untuk dimotivasi. Mereka ini seperti dokter yang menjanjikan bahwa setelah diperiksa Anda tidak akan ditemukan sedang sakit apa-apa.

Pragmatis mungkin pandangan demikian, dan tidak menarik. Tapi ya begitulah. Sebab mau diapakan lagi? Dibilang kurang baik mungkin iya, tapi ini bukan penyakit masyarakat ‘kan? Yang penting saya rasa jangan sampai berlindung di balik klise dan aforisma jadi terlalu gampang.

Ketika pertanyaannya diputar ke arah Anda

Saya percaya Anda tidak harus jadi serba-tahu untuk sekadar memprotes gagasan yang Anda pikir memang kurang mantap pondasinya. Tentunya kita tidak kepingin jadi kurang ajar, tapi kalaupun saya terkesan duduk-pagar (fence-sitting apa padanan Bahasa Indonesianya?), saya condong ke kubu kontra yang tidak merestui praktik seperti ini. Jadi petuah (bah!) saya bukan “jangan protes kecuali situasinya enak”, tapi “proteslah kecuali situasinya jelek”. Bagusnya apa, wabah ini biang keroknya lebih pada sikap ketimbang materi. Okelah, kalau slogan-slogannya membikin Anda geli, tapi rasa gemas itu kok rasanya tidak sepenuhnya ada pada slogannya, melainkan kenyataan bahwa slogan-slogan basi seperti demikian dikultuskan sedemikian rupa.

Sehingga, barangkali yang diperlukan ialah peluluhan otoritas — memecahkan mantra. Tertawakan saja sekali-sekali. Buat orang-orang sekitar Anda tahu bahwa masih banyak yang menganggap remeh nasihat-nasihat yang mungkin dianggap self-evident itu. Pecahkan saja kepala mereka biar ramai! Jadi, apa yang harus diperbanyak adalah sinisisme, supaya mengimbangi optimisme keblinger yang menjangkiti saudara-saudari kita? Masakan jadi mirip soto, yang kalau sudah kebanyakan sambal, kemudian dibanjiri kecap manis supaya seimbang? Ya mungkin. Gak tahu. Saya tidak ahli memecahkan masalah, hanya saya suka sok memeriksa masalahnya supaya (semoga) lebih gampang dipecahkan oleh kawan-kawan yang lebih pandai.

Ayo coba dipecahkan! Anda pasti bisa! Manusia punya potensi yang tak terhingga! Ulangi setelah saya! Manusia punya potensi yang tak terhingga!

Gambar orang pura-pura membaca dari Pexels. Gambar “obesitas intelektual” dari The Age of Uncertainty. Sampul album Words of Wisdom dari Metallyrica. Kartun dari Nedroid Picture Diary.

More stuff

Previous:

Next: