Brouhaha

Gulat Konyol El Clásico

Di kasak-kusuk yang semakin kurang beradab ini yang lebih kentara meniru tata krama bergulat bukanlah Pepe atau Sergio Busquets, melainkan penonton yang ada di luar lapangan hijau.

Apabila hendak memetik pelajaran dari rentetan El Clásico (betul, hanya satu “s”) yang mengusik kita setahun belakangan, maka sudah selayaknya yang disimpulkan adalah: orang menganggap hiburan ini barangkali sudah terlampau serius. Bagi para pelakonnya sendiri mungkin lumrah, toh itu pekerjaan mereka. Tapi sebagian besar kita tidak cari makan dari industri itu.

Saya tidak katakan lantas berdosa jika bersemangat membela tim kesayangan. Kodrat manusia saya pikir memang berpencar-pencar dan lalu bertengkar-tengkar, oleh sebab itu tribalisme merk sepele macam sepakbola ini dari satu segi sangat berguna untuk memuaskan nafsu buas demikian tanpa melibatkan parang dan clurit.

Tapi kok semakin lama semakin norak.

Banal memang kalau hendak membandingkan clasico dengan gulat profesional (versi “olahraga-hiburan”, bukan yang dipertandingkan di PON) sebab pendekatan centéng a la Real Madrid gampang dicemooh seperti itu; bahwa pemain sebangsa Pepe atau Marcelo lebih cocok berlaga di ring, bukan lapangan hijau. Sindiran di frekuensi ini banyak saya dengar dari kubu pro-Barcelona atau paling tidak anti-Real Madrid, terutama pendatang baru. Ini kemiripan yang paling kasat mata, paling superfisial, antara clasico belakangan dan kegiatan gulat-menggulat.

Pengamat yang lebih awas (baik dalam perihal sepakbola maupun gulat) akan membawa perbandingan ini lebih dalam lagi. Kita ingat konsep selling pada gulat profesional, bermakna lebih kurang “bereaksi secara artifisial terhadap serangan yang diperagakan oleh lawan main”. Seperti yang kita tahu, sebagian dari serangan yang disaksikan pada pertunjukan gulat tidak benar-benar kena, sehingga tidak benar-benar sakit. Sebagian lainnya yang kena pun tidak sesakit apa yang diperagakan oleh atlet yang tengah digarap. Pun apabila memang betulan sangat sakit, apa salahnya dibikin seolah-olah lebih sakit lagi. Tujuannya tentu memberi bumbu pada laga-laga yang ditampilkan agar kelihatan lebih seru dan berbahaya dari kenyataannya.

Nah, apabila paralel gerakan-gerakan berbahaya mengingatkan kita pada kubu berbaju putih, maka paralel kedua ini mengingatkan kita pada pada kubu seberangnya yang berbaju merah-biru. Adapun reputasi cemar ini diperoleh oleh Barcelona secara resmi sejak insiden cilukba-nya Sergio Busquets tahun lalu. Tindakan kurang terpuji ini menjadikan konflik clasico bagi orang luar lebih kurang simetris kebobrokannya: yang satu kasar, sembrono; satunya lagi licik, lebay.

Kedua penyimpangan ini sebetulnya tidak tanpa pembelaan—atau lebih tepatnya, pembenaran. Serudukan-serudukan Pepe, menurut sebagian, masih dalam tahap wajar. Si Pepe tentu tahu risikonya: kalau melewati batas akan diperingatkan atau diusir, dan kalau melulu lolos hukuman, ya salah wasitnya. Yang saya temui berpendapat begini biasanya orang berhaluan Inggris (yang menganut paham sepakbola keras) atau orang Amerika (yang akrab dengan sepakbola Amerika yang bersifat kontak penuh). Menurut mereka, sepakbola yang tergolong olahraga kontak terbatas kian didorong oleh FIFA ke arah olahraga non-kontak—pendeknya, jangan terlalu manja! Mungkin ada benarnya, tapi kalau tak-layak-larang apa lantas jadi tak-layak-cela?

Pembelaan dari sudut seberang berbunyi: akting Busquets dan Dani Alves tidak mengapa dan dimaklumi saja sebab sudah dipancing terlebih dahulu. Jadi, boleh-boleh saja curang kalau sudah dicurangi duluan. Nanti kakinya patah! Nanti pensiun muda, atau naik-turun meja operasi seperti Owen Hargreaves. Konon di beberapa kultur sepakbola, tipu daya itu bagian dari permainan. Jadi mungkin juga ada benarnya, tapi, lagi-lagi, cukup-bisa-dimengerti apa lantas jadi tak-layak-cela?

Meski begitu, yang sedang giat belajar meniru budaya gulat sebetulnya bukan Pepe atau Busquets, melainkan penonton.

Penonton, dan seterusnya media-media berita, kelihatannya menghayati sekali dinamika rudos dan técnicos, sebuah tradisi lucha libre yang mungkin menginspirasi dualisme modern face dan heel di gulat pro aliran Amerika.

Face yaitu seorang pegulat yang diskenariokan menjadi “pahlawan”: berperilaku lurus dan mengundang simpati kita. Heel adalah kebalikannya: pegulat yang menjadi “orang jahat”, dengan perilaku yang congkak dan memancing permusuhan dengan penonton. Pada tradisi lucha libre pembagiannya lebih mendetail lagi, di mana seorang face, kali ini disebut técnico, bakal mengandalkan teknik-teknik gulat yang lebih ruwet dan canggih. Lawannya, seorang heel yang disebut rudo, selain menyebalkan juga pendekatannya lebih ke arah tenaga otot dengan teknik gulat sederhana.

Sebagian pemerhati sepakbola, dalam menyikapi clasico era Guardiola/Mourinho, telah terperangkap dalam sudut pandang demikian, sebuah tradisi gulat pro yang tidak semestinya dipakai untuk olahraga lain.

Karena itu, saya kira departemen humas Barcelona sama fenomenalnya dengan jajaran pemain tengah mereka. Bagi penonton barangkali tidak cukup melihat sebuah rivalitas sepakbola apa adanya: ada dua puluhan atlet yang dibayar (terlalu) mahal untuk memainkan permainan yang sama dengan yang kita mainkan di akhir pekan, dan salah satu kubu sekarang bermain lebih baik dari kubu satunya. Ada keinginan untuk menjadikannya seperti sinetron, seperti Mahabharata—Pándalona dan Real Kaurava. Di sini Barcelona mengisi peran face, dengan keterampilan mengolah bola yang superior (técnicos), membela kebenaran (“sepakbola sejati,” sesumbar Xavi Hernández) melawan para heel yang diperankan oleh Real, sekawanan atlet buas (rudos) yang mesti ditumbangkan. Barcelona tidak bodoh dan paham benar dengan keinginan ini, sehingga kian hari kian mereka kipas-kipasi.

Ketika Barcelona mengangkat piala Super Spanyol benerapa hari lalu, terbaca oleh saya sebuah komentar di Internet: “jagoannya selalu menang.” “Jagoan” di sini ia sebutkan sebagai “good guy“, nuansanya menyerupai “si topi putih” pada film-film koboi. Saya tertegun.

Kita membikin cerita dan drama yang tidak perlu. Dengan akal sehat saja sudah terang bahwa satu-satunya perbedaan yang layak dipedulikan dari clasico ialah keampuhan sepakbolanya. Lain dari itu tidak.

Ada dua tingkat pada waham yang satu ini. Pertama, kita ingin percaya bahwa yang kita saksikan adalah laga koboi topi putih melawan koboi topi hitam, bahwa separuh pemain-pemain di lapangan secara moral lebih pantas dihadiahi kemenangan. Padahal kenyataannya, saya rasa sama-sama ada unsur congkak (dengan gayanya masing-masing) dan doyan mencari ribut dari sebagian anggota kedua kubu. Mourinho: lancang mengobok-obok wajah staf Barcelona. Lionel Messi: mengolok-olok dan bahkan berniat melukai pendukung lawan. Dani Alves: sempat memalsukan cedera kakinya. Marcelo: menggunting kaki Cesc Fabregas. Apakah setara kebusukannya? Entahlah, tak berminat saya mengukur-ukur. Yang pasti busuknya ada.

Kedua, kita ingin percaya bahwa kubu face, secara organisasi, lebih luhur dibandingkan kubu heel. Di sini harus diakui pendukung Barcelonalah yang lebih bersalah dalam membesar-besarkan pencapaian mereka. Saya tidak akan mengomentari klaim-klaim superioritas yang didasarkan atas “jiwa pemberontak Catalunya” atau “rezim Jenderal Franco” sebab tidak hanya pretensius, tapi juga absurd. Yang saya maksudkan misalnya cibiran untuk praktik penghamburan uang atau semangat “sepakbola sejati” yang didengungkan belakangan. Padahal laporan keuangan Barca tidaklah jauh beda dengan Real (utang, total gaji pemain termahal di dunia, monopoli televisi yang kurang etis, dsb.), dan kebanggaan berlebihan atas tiki-taka juga menurut saya cenderung sempit. Tidak perlulah mengerdilkan mahzab-mahzab besar lain dalam strategi olah bola. Pada tingkat organisasi, Barcelona cukup kita puji atas akademi yuniornya yang sangat bagus. Di luar itu mereka klub biasa yang menginginkan uang dan piala.

Beberapa dari Anda mungkin terkekeh—memang begitulah adanya, kata Anda. Sandiwara seperti ini sudah Anda anggap banal dan malah lucu, lagu lama dan mungkin tak akan berhenti dinyanyikan. Mungkin saja benar, tapi itu tidak membantu sakit kepala saya ketika sirkusnya dimulai lagi.

Anda tanya, lantas apa sebaiknya “sepakbola tabloid” semacam ini tetap dihentikan? Saya jawab sebaiknya iya, sebab lewat hubris Barcelona dan provokasi Real Madrid, dihasilkan sirkus media yang semakin lama semakin konyol dan membuat malas mengikuti berita. Seperti opera sabun. Rasa-rasanya, yang terjadi di atas lapangan sudah cukup menarik dan tidak perlu ditambahkan melodrama khayal supaya lebih seru.

Gambar: Ben Sutherland