Review

The Seventh Seal

Antonius Block belum ingin mati sebelum menemukan Tuhan, tapi waktunya sudah dekat. Jadi ketika Kematian datang untuk menjemputnya, Block mengeluarkan papan catur dan menawarkannya untuk bermain.

Kalau Anda tergolong awam soal film, kemudian sekali-kali sok icip-icip film yang katanya klasik atau kelas wahid — tentunya supaya bisa pongah dan berbesar kepala — ada tiga reaksi yang bisa muncul.

  1. Berangguk-angguk dan mengamini bahwasanya film yang barusan ditonton memang sangat baik mutunya (saya alami ini dengan, misalnya, Memento atau Citizen Kane).
  2. Bingung luar biasa, tersesat dan terasing. Tidak terlalu mengerti apa yang baru saja disaksikan, tapi memang terasa ada bobotnya dan perlu ditonton lagi di lain kesempatan (Taxi Driver).
  3. Merasa tertipu; cenderung menganggap kualitas film yang bersangkutan terlalu dibesar-besarkan (Groundhog Day).

Untuk The Seventh Seal (1957) jujur saja dulu saya bersiap-siap untuk reaksi kedua, sebab terintimidasi melihat reputasinya yang konon sangat simbolis dan teatrikal. Memang ada saya temukan beberapa yang justru menganggap film ini tidak pretensius dan lurus-lurus saja narasinya, tidak surreal dan tidak nyentrik. Agak sulit dipercaya waktu itu, mengingat yang paling tersohor dari film Ingmar Bergman ini ialah duel catur antara tokoh utamanya dengan Kematian. Ini interpretasinya literal: Kematian (lengkap dengan jubah dan sabit raksasa) duduk berhadap-hadapan dengan si jagoan dan bermain catur.

Namun ujung-ujungnya memang betul, kepala tidak seberputar-putar yang saya kuatirkan. Tidak setersesat ketika menyelesaikan Taxi Driver. Barangkali kekayaannya ada pada detail, dan barangkali ketika ditonton buat kedua, ketiga, atau keempat kalinya akan muncul hal-hal baru yang lolos dari perhatian; tapi tetap bisa dinikmati walau tidak menganalisis terlalu dalam. (Walau ini tentunya tidak mengklaim film ini sesederhana film laga tiga-babak.)

“Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira setengah jam lamanya.” — Wahyu 8:1

Antonius Block (Max von Sydow), seorang Ksatria Perang Salib, digambarkan sudah capek bertempur. Perang Salib yang ia sertai baru saja usai (tidak dijelaskan edisi yang mana, film ini anakronis dan tidak dimaksudkan untuk akurat), maka bersama dengan pengawalnya, Jöns (Gunnar Björnstrand), Block berangkat dari Yerusalem kembali ke kampung halamannya di Swedia. Cerita ini singkatnya mengisahkan kepulangan Block, mulai dari ketika ia merapat ke Swedia hingga sampai di kediamannya. Jadi, kata Bergman, The Seventh Seal termasuk road movie.

Perjalanan badani Block disertai — dan kalah jauh fokusnya dengan — perjalanan spiritualnya. Tokoh Block diceritakan mirip seorang peziarah. Kita tidak mengerti apa dan bagaimana Block memulai perjalanan dan pencariannya, tapi jelas bahwa dia dimaksudkan sebagai personifikasi pencari Ilahi. Kutipan Perjanjian Baru yang dijadikan judul oleh Bergman menjadi tema film ini, yang walaupun berkedok kisah zaman pertengahan, kalau dipikir-pikir lebih mirip metafora untuk zaman modern: sunyi-senyapnya sorga. Block adalah sang intelektual (disimbolkan dengan kemahirannya bermain catur) dan sang manusia seutuhnya (seorang ksatria, bangsawan, dan pahlawan). Block tidak bangkrut secara moral, tak ada yang salah pada pribadinya. Oleh sebab itu pencarian yang ia lakukan bukan sebagai jalur pertobatan atau apa, melainkan murni karena keingintahuan dan keinginan yang menggebu-gebu supaya kehidupannya memiliki makna. Kita belajar mengenal Antonius Block sebagai manusia yang akan memilih neraka ketimbang hanya sirna setelah tiada.

Persoalannya ya itu tadi. Sorga sunyi-senyap. Tak ada jawaban. Block ketakutan setengah mati.

Sebelum Anda memprotes Block yang terkesan cengeng, harap diingat bahwa gampang memang menghargai hidup dan tak terlalu memikirkan mati apabila latar yang dipakai adalah dunia modern yang relatif nyaman. Oleh sebab itu, film ini menggunakan latar belakang Wabah Hitam (yang memang mulai tersebar jauh setelah Perang Salib; film ini bukan film historis), sehingga nuansanya sangat gelap dan suram. Sepulangnya dari berperang selama 10 tahun lamanya, Block dan Jöns mendapati negeri mereka sekarat karena wabah.

Di awal cerita, Block didatangi oleh Kematian (Bengt Ekerot). Saya sebut Kematian, dan bukan Malaikat Maut, karena Kematian di film ini tak jelas asal-usulnya. Tak pernah dia menyebutkan siapa majikannya atau ke mana dia akan membawa mangsanya. Block memprotes: badannya sudah siap mati, tapi jiwanya belum. Ia tantang Kematian bermain catur, dan selama rajanya belum mati, Block dibiarkan tetap hidup. Apabila Block menang, Kematian akan meninggalkannya sampai kesempatan selanjutnya. Jadi, Block punya deadline.

Sepanjang ziarahnya, Block berjalan dan mencari Tuhan, sembari berupaya mengalahkan (atau paling tidak terus menunda) Kematian dalam permainan catur. Mereka bermain sepotong-sepotong, hanya beberapa langkah saja per harinya, sebab Kematian punya pekerjaan lain. Dia sibuk. Sedang ada wabah. Banyak orang yang perlu dicabut nyawanya.

Bertindak sebagai foil adalah Jöns dan Jof. Jöns, seperti disebutkan, adalah pengawal/squire dari Block. Berbeda dengan Block, Jöns sudah tak tertarik lagi dengan Tuhan-menuhan. Dia mewakili sisi ekstrim dari pemikiran nonteistik — kita bisa lihat bahwa Jöns sangatlah cerdas, berpendidikan, bisa diandalkan dalam pertarungan, namun dingin, sinis dan nihilistik. Ia menyelamatkan seorang gadis dari perampok makam di pertengahan film, kemudian bertutur, “I could have raped you. But, just between us, I’m tired of that kind of love. It’s dry in the long run.” Meski begitu, Jöns tidak lantas terkesan sebagai antagonis, boleh dibilang adegan di atas adalah satu-satunya di mana ia tidak menjadi protagonis yang keras dan handal. Mungkin digunakan memang untuk mengkarikaturkan karakternya sebagai perwakilan sisi niragama yang ekstrim: hidup adalah absurd, yang mesti dikejar ialah kesenangan indrawi. Menurut beberapa analisis, Jöns bahkan dianggap karakter utama yang sebenarnya.

Jöns; Jof dan istrinya Mia.

Di sisi lain adalah Jof (Nils Poppe), seorang penghibur keliling yang mengembara bersama istrinya Mia (Bibi Andersson), anaknya Mikael (kok bukan Yoshua, padahal nama orang tuanya sudah merupakan diminutif dari Yusuf dan Maria?), serta sahabatnya Jonas. Berhubung mereka menuju ke arah yang sama, Jof dan kawan-kawan bergabung dengan rombongan Block dan berjalan bersama sampai akhir cerita. Jof adalah kebalikan dari Jöns: pribadinya sederhana, lemah lembut, gampang dibuli, serta tidak mampu berpikir terlalu keras. Namun Jof hidup dengan berbahagia, bahkan ketika dikelilingi wabah dan arak-arak flagelan yang senantiasa berkhotbah tentang hari akhir. Jof mengklaim mampu melihat keajaiban demi keajaiban, walau bahkan istrinya pun hanya menertawakannya. Sekitar penghujung cerita, ia bahkan mampu menyadari bahwa Block tidak sedang bermain catur sendiri, melainkan bersama Kematian. Jof kemudian lari terbirit-birit. Tidak terlintas di pikirannya, bahwa keanehan yang ia alami sehari-hari itulah yang terus diburu oleh Antonius Block, sepanjang hayat. Barang satu saja.

Apa yang terjadi setelah rombongan Block mendapatkan anggota dari kedua kubu, tentu harus nonton sendiri.

“I want knowledge. Not faith, not assumptions. Knowledge.”

Protesnya Antonius Block ini mirip sekali dengan Carl Sagan. Menurut Ann Drunyan (saya lupa baca di mana), Sagan tidak mau percaya. Sagan mau tahu.

Ada dua adegan yang jelas-jelas berbau katarsis dalam The Seventh Seal: pengakuan dosa Block di sebuah gereja (plus pidato Jöns yang menunggu di bawah sebagai bonus), dan adegan seorang penyihir dan dihukum mati dengan dibakar. Katarsis karena Bergman konon memang sedang galau ketika membuat film ini, dan kemungkinan menyumpalkan uneg-unegnya ke mulut duo Block dan Jöns. Kalau tak sempat menonton semuanya, lihat yang dua itu saja.

Adegan pertama mungkin akan terdengar basi karena rengekan “ingin tapi tidak bisa” yang dipakai sudah terselip ke banyak sekali karya-karya sepanjang abad ke-20. Tapi tetap lebih realistis ketimbang shorthandngambek karena suatu tragedi” yang kerap dipakai cerita-cerita lain, terutama yang hanya berfungsi sebagai manusia-jerami. Antonius Block sudah lelah dengan hidup setelah berperang selama satu dasawarsa (apa ini perlu sebetulnya saya kurang jelas, sebab justru menjauhkan karakternya dari orang-orang biasa seperti kita), tapi ingin memastikan keberadaan-Nya sebelum meninggal. Setelah itu kita langsung dihadapkan pada Jöns yang mengobrol dengan pendeta di dekat pintu masuk, dia mengisyaratkan bahwa pencarian buatnya sudah berakhir. (“Ini Jöns… Dunianya tidak dipercayai siapapun kecuali oleh dirinya sendiri. Dunianya absurd, termasuk bagi dirinya sendiri.”)

Adegan kedua mungkin paling tidak sukar untuk diartikan. Seorang gadis penyihir akan dibakar hidup-hidup. Jöns bertanya pada tuannya, apa kira-kira yang sedang dilihat oleh si penyihir. Block membalas, dia sudah tidak dalam penderitaan lagi. Ini bagi pengawalnya bukan jawaban yang pas; “You’re not answering my question. Who will take care of that child?” Block berkaca-kaca. Menurut Jöns, jawabannya boleh jadi kehampaan; Block tidak mau terima.

Banyak sebetulnya yang bisa dibicarakan dari film ini, tapi tak perlulah saya yang berceloteh. Toh gampang menemukan analisis-analisis The Seventh Seal melalui Google; lewat berbagai kacamata, dan panjang-panjang pula. Silakan coba kalau tertarik. Oh, perlu filmnya? Gampang itu, curi sajalah dari Internet. Ukurannya toh tak lebih berat dari film porno.

Sebelum tutup acara, ada dua yang mengganggu: Pertama, Jöns mirip dengan Baldrick dari musim pertama Blackadder! Kadang susah menanggapinya serius kalau penampilannya mengingatkan dengan serial komedi situasi. Kedua, caturnya salaaah! Ratu tidak sekuat itu dalam versi catur abad pertengahan. Mestinya manuver membunuh ratu di tengah-tengah film tidak semematikan itu, tapi seperti yang kita tahu, ini bukan film historis. Apa boleh buat.

Jadi, kalau ditanya reaksi saya termasuk golongan berapa, mesti saya akui akhirnya tergolong reaksi pertama walau mungkin banyak detail yang terabaikan. Film terakhir yang saya tonton secara halal adalah The Tourist, terasa sekali perbedaannya: yang ini memang berbobot dan tak rugi ditonton berulang-ulang.

Beberapa mengatakan kalau film ini (dan Ingmar Bergman) sudah tidak sekultus dahulu lagi. Entah kenapa saya tak tahu persis; buta total saya soal perfilman. Tapi, walaupun tak sekultus dulu, toh masih kultus, bukan? Masih jaminan mutu, jadi tak perlu waswaslah.

Gambar-gambar dari film The Seventh Seal dan sitkom The Black Adder.