Navel-gazing

Tidur. Cuih, Bah.

Siklus kampret: bermulai dengan Anda menatap langit-langit di kamar gelap, dan berakhir dengan Anda, dengan kepala yang sedikit berputar-putar, terhuyung-huyung turun dari ranjang meraih sikat gigi dan odol.

Kalau Anda orang muda yang payah dan belum ada apa-apanya, mestinya Anda paling tidak suka tidur. Ia menghentikan aktivitas-aktivitas yang banyak di antaranya berfungsi supaya Anda jadi orang. Apalagi kalau ada apa-apanya — menghalangi menikmati hidup dong. Ini praktik prokrastinasi terhebat umat manusia; kalau perasaan Anda biasa-biasa saja, ya berarti Anda mungkin juga biasa-biasa saja. Payah tidak, hebat juga belum. Mungkin.

Saya tidak suka tidur. Tidur ini kebutuhan badani yang paling bikin susah selain mungkin mencabut gigi bungsu. Rata-rata orang dewasa paling kurang perlu sekitar delapan jam seharinya — jika sepertiga hari dihabiskan tergolek di atas ranjang, hitung-hitung tentunya ada sekitar sepertiga nyawa yang melayang. Apa-apaan itu. Ada memang metode-metode tidur uberman yang mengkorting waktu sia-sia ini barang sedikit (Anda diharuskan tidur pendek beberapa kali dalam sehari, yang apabila ditotal kurang dari porsi tidur standar), tapi menurut suara sumbang, ini tidak terlalu menyehatkan. Saya pernah dengar konservasionis Farley Mowat sampai meniru gaya tidur serigala yang dia amati, lengkap dengan merangkak sebagai peregangan sekali sekian menit. Pacarnya tidak suka setiap malam ada yang merangkak-rangkak di karpet tiap sebentar (ini rasional), dan alih-alih berhenti Mowat memilih berpisah. Sayang saya tidak tahu motivasi Mowat, apa memang untuk mengkorting waktu prokras atau cuma nyentrik.

Celakanya bangun kadang lebih sulit ketimbang tidur. Sewaktu saya mengeluh tidak suka tidur, tentu bukan berarti tidur itu menyakitkan atau apa — manusia tentu terprogram untuk menyukai bergolek-golek di atas kapuk dan tidak melakukan apa-apa untuk roda ekonomi. Saya kira alami kalau anak-anak suka réwél tidak mau tidur, barangkali belum merasionalisasi rutinitas-rutinitas yang tawar sebagaimana orang dewasa. Tahukah Anda, ketika Anda mematikan lampu dan menengadah menengok langit-langit, otak Anda justru iseng, aktif merekapitulasi hari yang baru lewat? Kalau sudah télér tentu lain soal, Anda tinggal tutup mata dan menunggu proses tidur-menidur selesai, kemudian bangun dan melanjutkan hidup. Tapi harusnya ‘kan lebih sering tidak télér, dan lalu sedikit berbosan melihat atap. Ini lebih kurang ajar, sebab menunda tidur sedikit banyak menunda bangun, sebuah proses prokrastinasi yang paling bikin masygul, sebab sudah bukan salah kita lagi. Tidak bisa disembuhkan dengan ritual-ritual biasa.

Setelah susah payah mentidaksadarkan diri, bangunnya justru lebih menyulitkan. Ini juga (katanya) ada tekniknya; ada fase tidur yang ringan dan berat (di sinilah ada REM), dan ketika bangun dalam fase yang berat inilah kepala jadi berat, pemikiran jadi bodoh (saya pakai alarm yang mematikannya mesti mengerjakan soal matematika dulu, level SD tapi masih ada salah-salah), dan tujuan hidup kita direduksi menjadi “matikan alarmnya lalu kembali bergolek-golek!” Bebunyian alarm yang meneror seperti musik metal atau derikan alarm jadul, ujung-ujungnya akan bikin sedikit pusing. Di sisi lain, alarm yang lembut dan mendayu-dayu justru membuat tambah pulas. Idealnya bangun sendiri, tapi memangnya gampang?

Brengseknya lagi, menurut ilmuwan-ilmuwan (lupa dari mana — tidak ada referensi, maaf!) tidur itu tidak sesederhana yang banyak dipahami orang. Tidak sama dengan sepeda motor yang dibawa berjalan berhari-hari, lalu ‘diistirahatkan” supaya mekanismenya tidak kolaps. Menurut Wikipedia (tapi ada sumbernya), secara energi proses tidur-menidur itu “mahal” dan konservasi metabolismenya sedikit cuma 5-10%. Tidak terlalu paham saya, tapi kesannya lebih kurang seperti ini: tidur itu mengherankan dan bisa jadi tidak seberguna itu.

Menurut Nabi Muhammad, Tidur adalah saudari dari Mati; penghuni Surga nantinya tidak tidur. Ini kutipan yang bagus; Nabi Muhammad biasanya tidak sepuitis ini. Berarti secara agama bolehlah kita sangkut pautkan tidur dengan yang duniawi dan/atau nerakawi. Sebagian perbincangan agama secara langsung mengklaimnya sebagai metafora langsung dari kematian.

Alami semestinya menghubung-hubungkan tidur dan mati. Entah kenapa selama ini yang pertama selalu dicitrakan dengan yang bagus-bagus, misalkan berteduh di bawah pohon sekitar padang rumput. Padahal secara sinis ini buang-buang waktu, secara biologis istirahat yang tak terlalu efisien, dan secara puitis pun gladi resik proses berpulang.

Gambar: John William Godward, “Tukang Buah” (1917). WikiArt.