Civilisation

Tidak Direstui Buang Sampah di Sini

Mea culpa, sekaligus menerka kenap peringatan “yang buang sampah di sini anjing” tidak membikin orang sungkan, kecuali disertai centéng yang menyeramkan dan/atau sistem denda yang bukan gertak sambal.

In medias res! Jadi begini. Kemarin saya tiba-tiba tersadar mengucapkan sesuatu yang ironis. Tapi sebelumnya:

Ada tiga macam tempat sampah. Pertama, tempat sampah betulan; kedua, tempat di mana tertera tulisan “tidak boleh buang sampah”; dan ketiga, tempat mana-mana saja lainnya. Membuang sampah pada tempatnya jelas wajar dan tidak perlu kita usik, dan, di sisi lain, membuang sampah tanpa mengacuhkan tempat jelas kurang bagus dan tidak perlu pula kita usik. Yang lucu adalah tempat sampah golongan kedua.

Sebetulnya bagaimana ceritanya, sampai suatu tempat perlu diberikan tanda melarang membuang sampah? Di tempat-tempat umum misalnya, memang biasa dituliskan larangan membuang sampah (sekaligus dengan larangan-larangan kawannya seperti dilarang merokok) kecuali pada tong-tong yang disediakan manajemen. Tapi membuang sampah di tempat-tempat seperti di atas musababnya adalah malas — jadi tempat di mana sampah itu dibuang sebetulnya tidak spesial. Yang saya maksudkan sekarang yaitu tempat-tempat khusus di mana memang orang secara sadar menumpuk sampah.

Barangkali tempat tersebut dulunya memang dipergunakan sebagai tempat pembuangan sampah, namun karena suatu alasan (entah karena terlalu kotor, atau sudah ada tempat sampah yang lebih bagus, atau sampah-sampah dikumpulkan petugas di lokasi lain) tidak diakui lagi. Pada skenario seperti ini wajar agaknya pihak yang prihatin meletakkan papan peringatan supaya orang tidak membuang sampah di situ. Atau barangkali tempat yang bersangkutan memang bentuk dan lokasinya mengingatkan orang akan tempat membuang sampah, sehingga secara alami sampah-sampah pun mulai diletakkan di sana. Pertama-tama, satu orang memberanikan diri mencampakkan sekarung sampah di sana. Besoknya, orang lain memperhatikan bahwa ada yang membuang sampah di situ, dan selanjutnya lama-kelamaan tempat tersebut menjadi lokasi pembuangan sampah tidak resmi.

Ini dari tempat tinggal saya.

Menyadarkan semua tersangka dan terdakwa memang tidak gampang, karena perlu diinsyafkan semuanya en masse. Kalau hanya sebagian saja yang bertobat, besoknya karung sampah masih akan tergolek di situ, dan kesan yang muncul adalah bahwa membuang di sana tidak sebegitu salahnya.

Manajemen papan peringatan biasanya jadi semakin terpicu. Isi papan peringatannya pun semakin menyeramkan. Idealnya akan didenda, tapi karena denda-mendenda tak segampang itu, jadi sebagai gantinya yang disisipkan ialah caci maki. Dituliskan: apabila membuang sampah di sini, maka pelakunya adalah _____ (nama fauna/makhluk mitologis yang tidak agung). Atau, manajemen secara umum menyatakan bahwa mereka mendoakan kutukan langsung dari Tuhan untuk yang melanggar aturan.

Reaksi yang diinginkan oleh manajemen tentunya supaya mereka yang hendak mengotori tempat tersebut tahu bahwa yang akan mereka perbuat sebetulnya tidak diperbolehkan. Namun boleh jadi yang dirasakan hanyalah sekadar memahami kalau praktiknya tidak direstui oleh manajemen tapi lazim diperbuat warga sekitar. Dan “manajemen” kesannya lebih impersonal, gedongan. Manusia modern boleh sinis, tapi tetap romantis: menghargai individu-individu, tapi tidak korporasi dan organisasi-organisasi besar (walau nota bene terdiri dari individu-individu juga). Jadi teroris-teroris berkarung ini tidak akan terlalu bersimpati pada manajemen; peringatan-peringatan ini kontraproduktif lah.

Kembali ke cerita awal. Tempo hari ada kawan yang hendak membuang sampah. Ia tanyakan ke mana sampahnya akan dibuang. Saya jawab, ada tempat sampah di sebelah elevator. Ia lanjutkan, seperti apa persisnya. Maka saya sebutkan, ada tanda “dilarang buang sampah.” Buang di situ.

Di situ ada tumpukan sampah yang rapih, seolah-olah tanda itu berbunyi sebaliknya. Dan kemudian dibuanglah.

Gambar botol dari Pixabay. Gambar peringatan diambil sendiri.

More stuff

Next: